Makna Ubarampe dalam Tradisi Srakalan Desa Jono, Bayan, Purworejo Kajian Semiotika Roland Barthes

Penulis

  • Erlangga Ananta Riesa Wijaya Univerrsitas Muhammadiyah Purworejo
  • Aris Aryanto Universitas Muhammadiyah Purworejo
  • Intan Puspita Sari Universitas Muhammadiyah Purworejo

DOI:

https://doi.org/10.60155/dwk.v5i2.645

Kata Kunci:

Ubarampe, Semiotika, Tradisi Jawa, Makna Budaya

Abstrak

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tujuan mengungkap makna-makna terselubung dalam ubarampe srakalan melalui teori semiotika Roland Barthes. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan sesepuh Desa Jono, lalu dianalisis menggunakan konsep Barthes tentang denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil analisis menunjukkan bahwa tiap ubarampe seperti minyak wangi, uang, beras, air bunga, tumpeng, dan jenang merah dan putih mewakili struktur makna berlapis yang mencerminkan relasi manusia dengan masyarakat, alam, dan Tuhan. Ubarampe tidak hanya melambangkan doa dan harapan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan identitas dan pengendalian nilai-nilai luhur yang hendak ditanamkan kepada anak. Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi srakalan merupakan ruang simbolik tempat budaya, spiritualitas, dan harapan hidup berdialog secara intens dalam bingkai sistem tanda yang hidup pada masyarakat Jawa.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Unduhan

Diterbitkan

2026-02-06

Cara Mengutip

Wijaya, E. A. R., Aryanto, A., & Sari, I. P. (2026). Makna Ubarampe dalam Tradisi Srakalan Desa Jono, Bayan, Purworejo Kajian Semiotika Roland Barthes. DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra Dan Budaya Jawa, 5(2). https://doi.org/10.60155/dwk.v5i2.645

Terbitan

Bagian

Articles