DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa
https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA
<p>ISSN: 2807-808X (Online)<br />ISSN: 2807-825X (Cetak)<br />DOI: <a href="https://doi.org/10.60155/DWK">doi.org/10.60155/DWK</a><br />Penerbit: STKIP PGRI Ponorogo Press<br />Alamat: Jalan Ukel No. 39, Kertosari, Babadan, Ponorogo<br />Email: jurnaldiwangkarastkippo@gmail.com</p> <p>Frekuensi terbitan<br />Dua kali dalam setahun<br />Agustus - Februari</p>STKIP PGRI Ponorogo Pressid-IDDIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa2807-825XAnalisis Kepribadian Tokoh Kasminta dalam Novel Donyane Wong Culika Karya Suparto Brata
https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA/article/view/603
<p><em>Penelitian ini dilakukan dengan pendapat bahwa karya sastra berupa novel merupakan sebuah refleksi kehidupan yang digambarkan melalui pengalaman tokoh dalam cerita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur kepribadian tokoh Kasminta dalam novel dengan judul Donyane Wong Culika karya Suparto Brata. Penelitian ini berjenis deskriptif dengan menggunakan metode deskriptif analitik. pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah psikologi sastra dengan teori psikoanalisis Sigmund Freud, khususnya struktur kepribadian. sumber data penelitian ini adalah nover modern berbahasa Jawa dengan judul Donyane Wong Culika karya Suparto Brata yang terbit pada tahun 2004, dengan kutipan dialog atau narasi sebagai data utamanya. Hasil penelitian ini adalah ditemukannya ketiga jenis struktur kepribadian Freud dalam tokoh Kasminta, yakni 1) Id yang menolak rasa ketidaknyamanan; 2) Ego yang berupa pengambilan keputusan atas dasar dorongan Id; 3) Superego yang berupa dua subsistem Superego itu sendiri, yakni hati nurani yang berupa kesadaran akan kesalahan yang dilakukan di masa lalu dan ego ideal yang dapat membedakan perilaku baik dan buruk.</em></p>Ardi FirmansyahGalang PrastowoFutya Rakhmani
Hak Cipta (c) 2025 DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa
2025-08-222025-08-225110.60155/dwk.v5i1.603Larangan Memukul Gong saat Hajatan di Desa Babatan Diwek Jombang: Analisis Eksistensi dan Persepsi Masyarakat di Era Globalisasi
https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA/article/view/656
<p><em>Tradisi lokal yang berkembang di masyarakat sering kali</em> <em>mengandung aturan atau larangan yang diwariskan secara turun-temurun.</em> <em>Salah satunya adalah larangan memukul gong saat hajatan di Desa Babatan,</em> <em>Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Larangan ini dipercaya memiliki</em> <em>muatan nilai-nilai spiritual dan menjadi bagian dari tata cara adat yang</em> <em>tidak tertulis. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri bagaimana</em> <em>eksistensi larangan tersebut dipertahankan atau bergeser maknanya di</em> <em>tengah pengaruh arus globalisasi. Dengan menggunakan pendekatan</em> <em>kualitatif deskriptif fenomenologi, peneliti melakukan observasi dan</em> <em>wawancara terhadap masyarakat setempat lintas generasi. Hasil penelitian</em> <em>menunjukkan bahwa sebagian masyarakat, khususnya generasi tua, masih</em> <em>memegang teguh larangan tersebut sebagai bentuk penghormatan</em> <em>terhadap leluhur dan keyakinan terhadap hal-hal gaib. Sementara itu,</em> <em>generasi muda cenderung melihat larangan tersebut secara rasional namun</em> <em>tetap menghargai nilai budayanya. Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi</em> <em>lokal tidak sepenuhnya tergeser oleh modernitas, melainkan mengalami</em> <em>proses penyesuaian makna dalam kehidupan masyarakat yang terus</em> <em>berkembang.</em></p>Khalimatus Sa'diyah
Hak Cipta (c) 2025 DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa
2025-08-222025-08-225110.60155/dwk.v5i1.656Perubahan Sosio-Kultur antara Tradisi dan Modernitas: Studi Kasus Tedhak Siten
https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA/article/view/650
<p><em>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika perubahan sosio-kultural dalam pelaksanaan tradisi Tedhak Siten sebagai bentuk interaksi antara warisan budaya lokal dan arus modernitas. Tedhak Siten, sebagai sebuah salah satu ritual penting dalam siklus kehidupan masyarakat Jawa, mengalami transformasi baik dalam bentuk, makna, maupun cara pelaksanaanya seiring perkembangan zaman. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk-bentuk perubahan sosial-budaya yang terjadi pada tradisi Tedhak Siten, serta respons masyarakat Jawa terhadap fenomena tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan studi literatur dengan analisis data sekunder dari jurnal, artikel ilmiah, dan teori-teori sosio-kultur. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa modernisasi tidak sepenuhnya mengikis nilai-nilai tradisional, melainkan mendorong terjadinya adaptasi bentuk dan pemaknaan ulang tradisi agar tetap relevan di tengah kehidupan modern. Dengan demikian, pelestarian budaya lokal memerlukan pendekatan yang kontekstual dan responsif terhadap perubahan sosial.</em></p>Lailatuz ZahraNur Laili AlfiyantiRahma Annisa MardhiyahSania Putri HandayaniShaesa Rindini NabiilaZahra Amalia ShofaSuryo Ediyono
Hak Cipta (c) 2025 DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa
2025-08-222025-08-225110.60155/dwk.v5i1.650Penyimpangan Nilai Moral dalam Lakon Rama Bargawa: Tinjauan Sosiologi Sastra
https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA/article/view/542
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis penyimpangan nilai moral yang tergambar dalam lakon wayang Rama Bargawa melalui pendekatan sosiologi sastra. Lakon Rama Bargawa dipilih karena kompleksitasnya dalam menggambarkan dinamika sosial dan moral masyarakat, khususnya terkait dengan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh tokoh-tokohnya. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi kualitatif dengan strategi embedded and case study research, yang berfokus pada analisis dialog dhalang dalam lakon Rama Bargawa yang bersumber dari video YouTube. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lakon Rama Bargawa mengandung berbagai penyimpangan nilai moral, seperti perselingkuhan, ketidakmauan bertanggung jawab, ingkar janji, amarah, dan pembunuhan. Penyimpangan ini tidak hanya mencerminkan konflik individu, tetapi juga kondisi sosial dan budaya yang lebih luas. Melalui analisis sosiologi sastra, terungkap bahwa tindakan amoral yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam lakon Rama Bargawa, yang notabene adalah orang-orang terpelajar dan terpandang, menjadi cerminan dari dinamika kekuasaan, ketidakadilan, dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat pada masa itu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa lakon Rama Bargawa berfungsi sebagai cermin yang merefleksikan realitas sosial dan budaya, serta bagaimana penyimpangan nilai moral dapat menjadi representasi dari masalah-masalah yang lebih luas dalam konteks sosial. Analisis sosiologi sastra terhadap lakon ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana karya sastra dapat digunakan untuk mengkritik dan merefleksikan kondisi masyarakat.</p>Mahendra AtmajaSukisno Sukisno
Hak Cipta (c) 2025 DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa
2025-08-222025-08-225110.60155/dwk.v5i1.542Gastronomi Sastra Tradisi Tajin Sora dan Sappar pada Masyarakat Desa Klampokan Probolinggo
https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA/article/view/662
<p><em>Tradisi kuliner Tajin Sorah dan Sappar di Probolinggo merupakan warisan budaya yang sarat nilai simbolik, spiritual, dan sosial. Tradisi ini kerap dipandang sekadar ritual tahunan tanpa pemaknaan yang mendalam, padahal di dalamnya terkandung filosofi yang merepresentasikan identitas budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik, filosofis, dan historis dari Tajin Sorah dan Sappar sebagai ekspresi budaya masyarakat Probolinggo. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan studi pustaka, serta menggunakan pendekatan gastronomi sastra dan semiotika makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap unsur makanan, seperti warna, bahan, dan bentuk, menyimbolkan nilai-nilai kehidupan, kesucian, kesuburan, dan harapan. Bubur putih melambangkan kesucian, bubur candil melambangkan benih kehidupan, sedangkan santan dan daun pandan merepresentasikan harmoni dan perlindungan. Selain nilai simbolik, tradisi ini juga mengandung nilai sosial berupa kebersamaan dan solidaritas. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Tajin Sorah dan Sappar tidak hanya menjadi bagian dari praktik kuliner, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai budaya yang penting untuk dilestarikan di tengah tantangan modernisasi.</em></p>Putri Agustin Muberriroh
Hak Cipta (c) 2025 DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa
2025-01-222025-01-225110.60155/dwk.v5i1.662Makna Simbolik Tradisi Kirab Pusaka sebagai Media Edukasi Budaya bagi Generasi Muda di Kabupaten Trenggalek
https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA/article/view/660
<p>Kirab Pusaka di Kabupaten Trenggalek merupakan tradisi tahunan yang sarat simbolisme dan nilai budaya lokal, namun belum banyak dikaji secara mendalam sebagai media edukatif bagi generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik benda pusaka dan elemen prosesi dalam kirab, serta menganalisis peran simbol dalam membentuk identitas budaya dan karakter generasi muda. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol dalam kirab tidak hanya berfungsi sebagai artefak budaya, tetapi juga menjadi sarana internalisasi nilai-nilai luhur seperti tanggung jawab, kebersamaan, dan kebanggaan terhadap identitas lokal. Simbol-simbol tersebut memainkan peran strategis dalam menjaga kesinambungan budaya dan membentuk karakter generasi penerus melalui pendekatan edukatif berbasis tradisi.</p>Putri Ayu Nur Ardelina
Hak Cipta (c) 2025 DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa
2025-08-222025-08-225110.60155/dwk.v5i1.660