DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA <p>ISSN: 2807-808X (Online)<br />ISSN: 2807-825X (Cetak)<br />DOI: <a href="https://doi.org/10.60155/DWK">doi.org/10.60155/DWK</a><br />Penerbit: STKIP PGRI Ponorogo Press<br />Alamat: Jalan Ukel No. 39, Kertosari, Babadan, Ponorogo<br />Email: jurnaldiwangkarastkippo@gmail.com</p> <p>Frekuensi terbitan<br />Dua kali dalam setahun<br />Agustus - Februari</p> STKIP PGRI Ponorogo Press id-ID DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa 2807-825X Penanaman Budi Pekerti Melalui Pembiasaan Berbahasa Jawa Krama Alus di Lingkungan Sekolah https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA/article/view/378 <p>Tujuan pendidikan bukanlah sekadar menciptakan siswa, murid, atau peserta didik yang memiliki kecerdasan dan keterampilan hidup, melainkan juga memiliki akhlak, karakter, dan budi pekerti yang baik. Akan menjadi catatan tersendiri bagi siswa yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi, namun ia tidak mampu berinteraksi dengan baik terhadap orang di sekelilingnya. Oleh karena itu, perlu penanaman budi pekerti di lingkungan sekolah, khususnya pada aspek akhlak kepada sesama, salah satunya melalui pembiasaan berbahasa Jawa krama alus.</p> <p>Bahasa krama alus secara struktur tersusun atas kosakata krama dan krama inggil/ krama andhap. Krama inggil digunakan oleh mitra tutur (02) dan yang dibicarakan (03) sebagai bentuk penghormatan karena perbedaan kedudukan, usia, ataupun karena belum akrab. Kosakata krama andhap digunakan oleh penutur (01) sebagai upaya menghormati orang lain dengan cara merendahkan diri melalui pilihan kata tertentu.</p> <p>Strategi yang dapat diterapkan dalam membiasakan berbahasa krama alus di lingkungan sekolah adalah dengan penerapan metode drill (pengulangan Latihan), penyelenggaraan event rutin berbahasa Jawa (krama alus), serta penerapan prinsip 3M (mulai dari diri, mulai dari hal kecil, dan mulai dari sekarang). Sejumlah faktor yang menentukan keberhasilan program pembiasaan berbahasa krama alus di lingkungan sekolah antara lain komitmen dan keteladanan guru, pemahaman bahasa Jawa yang benar, ketersediaan sumber belajar, dan intensitas penerapan.</p> <p> </p> <p> </p> Eko Gunawan Hak Cipta (c) 2024 DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa 2024-02-01 2024-02-01 3 2 10.60155/dwk.v3i2.378 Makna Ubarampe Upacara Ngitung Batih Bulan Suro Kecamatan Dongko https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA/article/view/365 <p>Tradisi Ngitung Batih Suranan yang berada di Desa Dongko Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek ini merupakan salah satu acara rutin yang setiap tahun diadakan pada malam 1 Suro. Acara ini diselenggarakan untuk menyambut datangnya tahun baru dan salah satu acara yang dianggap penting dan sakral untuk masyarakat Dongko. Ngitung berarti menghitung, dan batih artinya jumlah anggota keluarga, termasuk keluarga sendiri dalam satu rumah. Penelitian ini mempunyai tujuan menjelaskan prosesi tradisi Ngitung Batih, menjelaskan susunan acara tradisi Ngitung Batih, dan menjelaskan bentuk dan makna ubarampe dalam tradisi Ngitung Batih. Teori yang digunakan yaitu studi kasus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode deskriptif kualitatif.</p> Eva Septia Hak Cipta (c) 2024 DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa 2024-02-01 2024-02-01 3 2 10.60155/dwk.v3i2.365 Studi Komparasi Makna Filosofi Nasi Berkat dalam Hari Kelahiran Dan Hari Kematian di Desa Selopuro Kabupaten Blitar https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA/article/view/369 <p>Penelitian ini membahas tradisi berbagi berkat dalam konteks kelahiran dan kematian di Desa Selopuro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Menggunakan pendekatan komparatif dan metode kualitatif, penelitian ini membandingkan makna filosofis isian nasi berkat pada upacara kelahiran dan kematian. Lokasi penelitian dipilih karena Desa Selopuro menunjukkan keberagaman yang khas dalam isian nasi berkat. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan dalam isian nasi berkat antara kedua peristiwa tersebut. Pada upacara kelahiran, ditemukan larangan terhadap kehadiran apem, keberadaan kulupan atau urap-urap, sambal goreng yang tidak terlalu pedas, singkong rebus, dan rujak uyub. Sementara pada upacara kematian, ditemukan keberadaan apem dan buceng pungkur. Simbolisme dan filosofi dalam setiap elemen makanan mencerminkan nilai-nilai kehidupan, moralitas, dan persiapan menuju alam setelah mati. Keterkaitan simbol dengan nilai-nilai kehidupan tercermin pada singkong rebus sebagai simbol pekerja keras dan rujak uyub sebagai representasi warna kehidupan. Harmoni dalam ritual kematian tercermin pada penggunaan apem dan buceng pungkur. Penelitian ini memberikan pemahaman yang mendalam tentang kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakat Desa Selopuro. Setiap tradisi makanan tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan pesan moral dan filosofis.</p> Octa Dwi Bagus Wahyu Setyawan Hak Cipta (c) 2024 DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa 2024-02-01 2024-02-01 3 2 10.60155/dwk.v3i2.369 Analisis Kesalahan Berbahasa Jawa Ranah Fonologis dalam Lingkungan Masyarakat Ponorogo https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA/article/view/380 <p>Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan metode penelitian kualitatif deskriptif yang berfokus pada kajian fonologi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kesalahan pelafalan fonem dalam lingkungan masyarakat Jawa, faktor penyebabnya dan cara mengatasi kesalahan fonem tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa 25% kesalahan pelafalan terjadi pada fonem vokal dan 75% terjadi pada fonem konsonan. Faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan pelafalan fonem pada masyarakat Jawa diantaranya adalah diantaranya faktor lingkungan yaitu keluarga, faktor ekonomi dan juga faktor dari seseorang itu sendiri yang kurang untuk mempelajari bahasa Jawa.</p> Luki Irma Wanti Suroto Rosyd Setyanto Endah Normawati Mahanani Hak Cipta (c) 2024 DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa 2024-02-01 2024-02-01 3 2 10.60155/dwk.v3i2.380 Konsep Makna Aktivitas Mata dalam Bahasa Jawa: Kajian Linguistik Kognitif https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA/article/view/382 <p>Penelitian ini membahas tentang konsep makna aktivitas mata dalam bahasa Jawa. Konsep pastinya berkaitan dengan citra yang dihasilkan. Aktifitas mata dalam bahasa Jawa memiliki penyebutan yang berbeda-beda yang disesuaikan dengan objek yang dilihat, cara melihatnya, alat yang digunakan dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk melakukan aktifitas tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mendeskrisikan perbedaan konsep aktifitas mata dalam Bahasa Jawa dan mendeskripsikan makna dalam masing-masing aktifitas. Metode yang digunakan pada pembahasan Penelitian ini adalah metode simak untuk teknik pengumpulan datanya. Data dianalisis melalui metode agih dengan teknik bagi unsur langsung, dan disajikan dengan metode informal. Hasil analisis pada artikel ini adalah didapatkannya 14 istilah yang merupakan feriferal dari kategorisasi aktifitas mata. Berdasarkan analisis tersebut dapat diketahui bahwa <em>tonton</em> ‘lihat’ adalah unsur sentralnya, sedangkan <em>nglirik, ngliwer, mlorok, mlilik, plirak-plirik</em>, <em>plorak-plorok,</em><em> m</em><em>ê</em><em>nd</em><em>ê</em><em>lik, m</em><em>ê</em><em>cicil, pand</em><em>ê</em><em>ng, kriyip-kriyip, m</em><em>ê</em><em>nth</em><em>ê</em><em>l</em><em>ê</em><em>ng, nrithil, nyawang,</em> dan <em>wulat</em> adalah feriferalnya. Unsur sentral dan unsur feriferal dalam data tersebut secara keseluruhan merupakan kategori verba yang terdiri dari bentuk dasar, proses afiksasi dan reduplikasi. Proses afiksasi tersebut berupa penambahan nasal pada bentuk dasarnya, atau dapat dirumuskan sebagai berikut: <em>N (m, n, ng, dan ny)+dasar</em>, sedangkan proses reduplikasi berupa reduplikasi berubah bunyi atau <em>dwilingga salin swara</em> dan reduplikasi utuh.</p> Endah Normawati Mahanani Serdaniar Ita Dhamina Hak Cipta (c) 2024 DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa 2024-02-01 2024-02-01 3 2 10.60155/dwk.v3i2.382 Wujud Memayu Hayuning Bawana dalam Legenda Sendang Bulus Ponorogo https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA/article/view/388 <p>Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud falsafah Jawa memayu hayuning bawana dalam Legenda Sendang Bulus. Data diambil dari teks Kumpulan Cerita Rakyat Ponorogo yang dibaca secara heuristik dan hermeneutik. Hasil kajian menunjukkan bahwa wujud falsafah Jawa memayu hayuning bawana dalam Legenda Sendang Bulus menunjukkan upaya mencapai harmoni kosmos sebagai upaya mencapai ketentraman dan kedamaian yang bersifat holistik. Wujud falsafah Jawa tersebut ditemukan dalam empat arah sifat hubungan yaitu (1) hubungan antara manusia dan Tuhan yang diwujudkan dalam perilaku berdoa dan berserah diri;(2) hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri dalam wujud aktivitas bertapa yang mengharuskan manusia mengendalikan hawa nafsunya dan memusatkan fokusnya kepada Tuhan; (3) hubungan antara manusia dengan sesama yang memuat perilaku mewujudkan ketentraman dan kedamaian bersama;serta (3) hubungan manusia dengan alam yang diwujudkan dalam bentuk menjaga kelestarian ekosistem maupun keragaman hayati dan non hayati yang ada di dalamnya.</p> Ahmad Pramudiyanto Fitriana Kartika Sari Hak Cipta (c) 2024 DIWANGKARA: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa 2024-02-01 2024-02-01 3 2 10.60155/dwk.v3i2.388