Jurnal Bahasa dan Sastra https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/JBS <p>ISSN: 2355-1623 (Cetak)<br />ISSN: 2797-8621 (Online)<br />DOI: <a href="https://doi.org/10.60155/jbs">https://doi.org/10.60155/jbs</a><br />Penerbit: STKIP PGRI Ponorogo Press<br />Alamat: Jalan Ukel No. 39, Kertosari, Babadan, Ponorogo<br />Email: jbspgripo@gmail.com</p> <p>Frekuensi terbitan<br />Dua kali dalam setahun<br />Januari - Juli</p> STKIP PGRI Ponorogo Press id-ID Jurnal Bahasa dan Sastra 2355-1623 Tindak Tutur Ilokusi Pada Film Sujud Terakhir Bapak Karya Reka Wijaya https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/JBS/article/view/764 <p>Penelitian ini menganalisis tindak tutur ilokusi dalam film Sujud Terakhir Bapak karya Reka Wijaya, yang merupakan tuturan dengan tujuan dan makna tertentu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan dampak dari tindak tutur ilokusi tersebut. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan pragmatik, data primer diambil langsung dari film, sementara data sekunder berasal dari buku dan jurnal relevan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah simak bebas libat cakap dan teknik catat, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teori tindak tutur John Searle digunakan sebagai landasan. Dari total 95 data tuturan, ditemukan 92 data merupakan bentuk tindak tutur ilokusi, yang terdiri dari 30 data asertif, 28 data direktif, 18 data ekspresif, 5 data komisif, dan 7 data deklaratif. Sementara itu, 3 data tuturan menunjukkan dampak ilokusi berupa konflik, guncangan emosional, serta reaksi spontan dan terkejut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film tersebut kaya akan kelima bentuk tindak tutur ilokusi yang menimbulkan beragam dampak. Diharapkan peneliti selanjutnya lebih teliti dalam memahami teori saat menganalisis tindak tutur ilokusi.</p> Andien Setyawati Kasnadi Kasnadi Ahmad Nur Ismail Rita Ristiana Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Bahasa dan Sastra 2026-01-26 2026-01-26 13 1 10.60155/jbs.v13i1.764 Perbandingan Bunyi Fonem dalam Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/JBS/article/view/752 <p><em>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan bunyi fonem bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Fonem adalah satuan bunyi terkecil. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menjelaskan dan menunjukkan contoh kosakata dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia yang memiliki arti yang sama, namun fonemnya berbeda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif perbandingan fonem bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa fonem vokal dalam bahasa Sunda ada 7, sedangkan dalam bahasa Indonesia ada 5. Fonem konsonan dalam bahasa Sunda ada 18, sedangkan dalam bahasa Indonesia ada 21. Hal ini dikarenakan adanya beberapa fonem khusus dalam cara penulisan, pengucapan, atau cara penggunaan fonem dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Dengan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan data yang menunjukkan perbedaan bunyi fonem dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda</em>.</p> Destiani Destiani Dina Restiana Khansa Zahra Aqilah Muhammad Shidqy Abdhiya Amjad Ali Jadie Irga Wijaya Guna Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Bahasa dan Sastra 2026-01-26 2026-01-26 13 1 10.60155/jbs.v13i1.752 Jenis Tindak Tutur dan Prinsip Kesantunan dalam Film Pendek Es Krim Terakhir dari Ayah https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/JBS/article/view/697 <p><em>Penelitian ini bertujuan menganalisis jenis tindak tutur dan prinsip kesantunan dalam film pendek “Es Krim Terakhir dari Ayah | Bensurvive Series” yang dirilis pada tahun 2024 melalui kanal YouTube MOP Channel. Kajian ini berangkat dari pentingnya melihat bagaimana komunikasi keluarga direpresentasikan melalui media audiovisual yang menampilkan tuturan secara kontekstual. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat, kemudian data dianalisis berdasarkan klasifikasi tindak tutur Searle dan prinsip kesantunan Leech. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 48 data tindak tutur, jenis asertif mendominasi dengan 17 data (35,4%), diikuti direktif 15 data (31,3%), ekspresif 14 data (29,2%), dan komisif 2 data (4,2%), sedangkan tindak tutur deklaratif tidak ditemukan. Sementara itu, dari 47 data prinsip kesantunan, maksim kearifan/kebijaksanaan muncul sebanyak 13 data (27,66%), maksim penerimaan/penghargaan dan maksim kesimpatian masing-masing 10 data (21,28%), maksim kerendahhatian 6 data (12,77%), maksim kedermawanan 5 data (10,64%), dan maksim kesetujuan 2 data (4,26%). Sebanyak 46 data (97,87%) mematuhi prinsip kesantunan, sedangkan satu data (2,13%) melanggar maksim kearifan. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi dalam film menonjolkan penyampaian informasi, ajakan, serta perhatian emosional yang santun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film tersebut menggambarkan pola komunikasi keluarga yang harmonis serta memberikan kontribusi pada kajian pragmatik, khususnya analisis tindak tutur dan kesantunan dalam media audiovisual.</em></p> Eka Rahmawati Anissa Nur Fatwa Elsa Aulia Lestari Gina Nadyatunnisa Titin Setiartin Ruslan Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Bahasa dan Sastra 2026-01-26 2026-01-26 13 1 10.60155/jbs.v13i1.697 Bahasa Sunda Gen Millenial dan Gen Z di Aplikasi Tiktok https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/JBS/article/view/754 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan bahasa Sunda oleh Generasi Milenial dan Generasi Z pada aplikasi TikTok, khususnya dalam bentuk campur kode dalam percakapan sehari-hari, mengidentifikasi pola perubahan fonologis yang muncul pada kata-kata hasil adaptasi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris ke dalam bahasa Sunda, serta membedakan ciri khas penggunaan bahasa pada masing-masing generasi. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa beberapa kalimat yang dikutip dari video TikTok yang diunggah oleh sejumlah akun, yaitu @susylawaty_, @susybarokahkammal, dan @anisasitiaisyah883 sebagai perwakilan Generasi Milenial, serta @elsanuraisyah09, @indahcantiii01, dan @astridjuwitaaa sebagai perwakilan Generasi Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Milenial cenderung menggunakan bahasa Sunda yang masih mempertahankan struktur kalimat tradisional, meskipun terdapat beberapa kata serapan. Sementara itu, Generasi Z menunjukkan penggunaan bahasa Sunda yang lebih fleksibel, ekspresif, dan didominasi oleh campur kode, serta banyak menggunakan istilah global dan menerapkan adaptasi fonologis yang lebih bebas. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Sunda di kalangan generasi masa kini terus berkembang melalui kreativitas penuturnya dan sangat dipengaruhi oleh budaya digital yang berkembang di platform media sosial.</p> Haidar Ali Dzulfikar Annisa Dwi Afriani Nur Meilani Miranda Sundari Acep Nurul Mubarok Eva Wulandari Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Bahasa dan Sastra 2026-01-26 2026-01-26 13 1 10.60155/jbs.v13i1.754 Tindak Tutur Ilokusi Dalam Cerpen Ṭabliyyatun Minas-Samā’i Karya Yusuf Idris Kajian Pragmatik https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/JBS/article/view/691 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan fungsi tindak tutur ilokusi dalam cerpen Ṭabliyyatun Minas-samā’i karya Yusuf Idris melalui pendekatan pragmatik. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami bahasa tokoh sebagai representasi tindakan sosial dan psikologis dalam karya sastra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan desain studi pustaka. Data berupa tuturan para tokoh dalam cerpen yang mengandung tindak tutur ilokusi dikumpulkan melalui teknik simak dan catat, kemudian dianalisis menggunakan teori tindak tutur Searle yang mencakup lima kategori: asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 43 data tindak tutur ilokusi, terdiri atas 8 tindak tutur asertif, 16 direktif, 15 ekspresif, dan 4 komisif, sedangkan bentuk deklaratif tidak ditemukan. Temuan ini menunjukkan dominasi tindak tutur direktif dan ekspresif yang menegaskan peran bahasa sebagai sarana ekspresi emosi, kekuasaan, dan relasi sosial antar tokoh. Kesimpulannya, tindak tutur ilokusi dalam cerpen ini berfungsi tidak hanya untuk membangun karakter dan konflik, tetapi juga untuk merefleksikan kritik sosial dan nilai kemanusiaan yang menjadi ciri khas karya Yusuf Idris.</p> Ismail Syah Razi Al-Faruq Maman Abdul Djaliel Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Bahasa dan Sastra 2026-01-26 2026-01-26 13 1 10.60155/jbs.v13i1.691 Makna dan Reduplikasi dalam Tembang Dolanan Jawa https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/JBS/article/view/702 <p>Salah satu wujud budaya adalah lagu daerah yang terbentuk sebagai hasil dari kehidupan sosial masyarakat setempat. Salah satunya adalah tembang dolanan yang digunakan untuk mengiringi permainan tertentu yang keberadaannya telah berkurang. Lagu dolanan ini terdiri dari banyak lirik yang mengandung reduplikasi dengan tujuan tertentu seperti penegasan sesuatu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dan reduplikasi yang ditemukan dalam lirik lagu Menthog-Menthog, Gajah-Gajah, Jaranan, Kancil, dan Ula Sawah. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode pengumpulan data dengan mengamati teknik catat tingkat lanjut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada lima reduplikasi dalam lima tembang dolanan, yaitu, tembung dwilingga padha swara, tembung dwilingga salin swara, dwilingga semu, menara dwipurwa, dan tembung dwiwasana. Kemudian makna reduplikasi dalam tembang dolanan ditemukan beberapa makna yaitu banyak, kegiatan berulang-ulang, penegasan, dan tidak bermakna karena termasuk reduplikasi semu.</p> Latifah Winda Hamidah Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Bahasa dan Sastra 2026-01-26 2026-01-26 13 1 10.60155/jbs.v13i1.702 Ideologi dalam Wacana Efisiensi Beasiswa KIP-Kuliah 2025 Kompas.com: Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/JBS/article/view/674 <p>Penelitian ini bertujuan mengungkap ideologi dalam wacana efisiensi beasiswa KIP Kuliah 2025 pada portal berita daring Kompas.com. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan pendekatan model Norman Fairlough. Norman Fairclough menetapkan tiga dimensi, yakni (i) dimensi teks, (ii) dimensi praktik diskursus, dan (iii) dimensi sosiokultural. Tahapan analisis data meliputi (i) proses deskripsi; (ii) proses penafsiran; dan (iii) proses eksplanasi. Hasil penelitian menunjukkan pada dimensi teks memuat frasa dan kosakata ideologi seperti pemotongan atau pengurangan, tidak terdampak efisiensi anggaran, tidak akan dikurangi, dipulihkan, semula, melanjutkan, dan diakses. Pada dimensi praktik diskursus, berita Kompas.com menggunakan diksi yang cenderung moderat dan rasional, seperti efisiensi anggaran, penyesuaian pagu, dan program tetap dilanjutkan. Pemilihan kosakata ini menunjukkan keberpihakan terhadap narasi negara yang mengedepankan stabilitas fiskal, sembari tetap memberi kesan bahwa kepentingan publik tetap dijaga. Pada dimensi sosiokultural, berita ditulis saat efisiensi beasiswa KIP-Kuliah 2025 menjadi perhatian publik. Secara institusional, berita ini merupakan bentuk tanggapan Kompas.com terhadap kasus tersebut, sementara aspek sosial menunjukkan dampak efisiensi beasiswa KIP-Kuliah 2025 terhadap ekonomi dan pendidikan masyarakat kurang mampu.</p> Muhammad Zanika Esa Putra Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Bahasa dan Sastra 2026-01-26 2026-01-26 13 1 10.60155/jbs.v13i1.674 Karakter Psikopat dalam Film Ballerina Karya Lee Chung-Hyeon: Kajian Semiotik https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/JBS/article/view/748 <p><em>Karya sastra ada sebagai bentuk refleksi dari kehidupan nyata yang bersumber pada lingkungan sosial masyarakat. Salah satu hasil yang dari karya sastra yang lahir dari imajinasi dan kreatifitas adalah film. pada penelitian ini, peneliti menggunakan film Ballerina sebagai objek penelitiannya. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui karakter dari seorang psikopat yang ada pada tokoh dalam film tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika milik Charles Sanders Peirce, serta menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini berupa simak, catat, dan tandai. Sedangkan untuk analisis data, peneliti menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sehingga ditemukan bahwa hampir semua tokoh dalam film Ballerina memiliki karakter psikopat dalam dirinya. Hal tersebut dapat dilihat dari 5 tipe karakter psikopat yang telah ditemukan di pembahasan pada penelitian ini, yaitu manipulatif, perilaku sadisme, tidak memiliki belas kasih, tidak memiliki rasa bersalah, dan cerdas.&nbsp; </em></p> Nur Adilla Atitah Gusti Heru Setiawan Sapta Arif Nur Wahyudin Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Bahasa dan Sastra 2026-01-26 2026-01-26 13 1 10.60155/jbs.v13i1.748 Pemerolehan Bahasa dalam Film The King’s Speech: Perspektif Behaviorisme dan Sosiokultural https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/JBS/article/view/576 <p>Penelitian ini membahas proses pemerolehan bahasa dan gangguan bicara yang dialami oleh tokoh utama dalam film <em>The King’s Speech</em> melalui pendekatan behaviorisme dan nativisme dalam ranah psikolinguistik. Film ini mengangkat kisah nyata Raja George VI yang mengalami gagap sejak kecil, namun harus menyampaikan pidato kenegaraan di tengah tekanan Perang Dunia II. Penelitian ini bertujuan menganalisis gangguan bicara tokoh utama, serta bagaimana intervensi terapi dan potensi bawaan bahasa dapat dijelaskan melalui dua pendekatan psikolinguistik utama. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan dan analisis isi (content analysis). Hasil analisis menunjukkan bahwa pendekatan behaviorisme sangat relevan dalam menggambarkan proses terapi melalui penguatan, repetisi, dan kebiasaan. Sementara pendekatan nativisme tampak melalui kemampuan tata bahasa tokoh yang tetap utuh meskipun terjadi hambatan dalam pelafalan. Penelitian ini memperlihatkan pentingnya pemahaman multidisipliner terhadap gangguan bicara, tidak hanya dari aspek medis, tetapi juga dari aspek linguistik dan psikologis.</p> Septy Mustika Prima Nucifera Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Bahasa dan Sastra 2026-01-26 2026-01-26 13 1 10.60155/jbs.v13i1.576 Onomatope Jajanan dari Tepung Tapioka (Aci) di Kabupaten Bandung (Kajian Fonestemik) https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/JBS/article/view/751 <p>Penelitian ini mengkaji unsur onomatope dalam penamaan jajanan berbahan tepung tapioka di Bandung, seperti cimol, cireng, cipak, dan cipuk. Penelitian bertujuan menjelaskan bagaimana bunyi yang muncul dalam proses pembuatan maupun saat mengonsumsi jajanan tersebut menjadi dasar pembentukan nama, serta menelaah keterkaitannya dengan kajian fonestemik dalam bahasa Sunda yang memandang adanya hubungan antara bunyi dan makna. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara untuk menggali persepsi dan pengalaman penutur terkait penamaan makanan yang bersumber dari bunyi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari dua puluh nama jajanan dari tepung tapioka yang dianalisis, terdapat lima nama yang secara jelas mengandung unsur onomatope, seperti /-reng/, /-mol/, /-pak/, /kriuk/, dan /-lok/, yang menirukan bunyi alami saat memasak atau dimakan. Unsur bunyi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tiruan suara, tetapi juga membentuk identitas linguistik, menggambarkan tekstur dan rasa, serta mencerminkan cara masyarakat Sunda merepresentasikan budaya melalui kuliner. Dalam perkembangan budaya masa kini, penggunaan onomatope dalam penamaan jajanan terus berkembang seiring kreativitas pedagang dan pengaruh media sosial. Dengan demikian, onomatope memiliki peran penting dalam tradisi penamaan jajanan yang terbuat dari tepung tapioka sebagai wujud keterkaitan antara bahasa, budaya, dan pengalaman indrawi masyarakat Sunda.</p> Sherina Orin Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Bahasa dan Sastra 2026-01-26 2026-01-26 13 1 10.60155/jbs.v13i1.751